bahasa : bahasa kaku.
Cahaya matahari yang telah menembus kamar melalui kilah tirai yang sedikit terbuka mulai menggangguku. Kilauan titik-titik cahaya dapat kurasakan meski dengan mata tertutup. Perlahan-lahan, aku mulai membuka mataku. Sambil sesekali mengerjap karena kesilauan. Tapi kemudian mataku mulai menutup kembali. Bukan hanya karena silau, namun karena bagiku ini masih terlalu pagi untuk bangun. Bulan puasa memang selalu ku gunakan untuk beristirahat secara maksimal. Karena itu, aku suka bermalas-malas saat bulan puasa.
Sambil mencari posisi paling nyaman, tanganku meraba-raba tempat tidur. Sampai aku merasakan sebuah benda dalam genggamanku. Dengan malas aku membuka mata perlahan dan melihat ke layar ponsel. Waktu telah menunjukkan pukul 08.35. Awalnya aku cuek saja dan kembali memejamkan mata.
“Masih pagi..” gumamku dalam hati. Namun dalam sekejap aku spontan langsung terduduk karena ingat akan sesuatu.
“Aaaaaaaaarrrrrrghhhh!!” aku setengah berteriak.
Dengan pasrah ku hempaskan kembali diriku ketempat tidur. Bertambah satu hari lagi dimana aku tidak sahur. Padahal kemarin aku tidak sahur. Itu pun saat malamnya aku hanya makan sekali saat bukaan, tidak ada acara nambah yang biasanya menjadi tradisi bagiku saat bulan puasa.
“Huuufft..” dumelku.
Aku berjalan keluar kamar dan menemui ibuku yang sedang menyuapi adikku yang masih kecil. Sempat terbesit rasa kesalku melihat adikku bisa makan sepuasnya. Tapi perasaan itu langsung kubuang karena tidak mungkin aku menyalahkan adikku. Dia kan tidak salah apa-apa.
“Ma, kenapa Wikha kada di banguni?¹” tanyaku, sambil merebahkan diri pada sofa disamping tempat ibuku.
“Sudah mama banguni tapi kada bangun-bangun jua. Sudah digarak-garak lawan Wim tapi kada bangun-bangun.²” jawab ibuku.
Aku baru saja mau bicara, namun tiba-tiba kakakku datang dan menambahkan, “Ikam ni mun guring kaya orang guring mati ³”
Mendengar kata-kata itu, aku tambah pasrah. Tidak ada yang bisa disalahkan dalam hal ini. Memang aku-nya yang kalau sudah keenakan tidur jadi susah dibangunkan. Lagian biasanya yang paling sering tidak ikut sahur kan memang aku. Jadi kalau terjadi hal-hal seperti ini kan emang wajar. Namun entah kenapa, hari ini aku benar-benar menyesal tidak ikut sahur.
***
Seharian aku hanya menghabiskan waktu dengan tidur, sms-an, dan tidur dalam mobil. Maklumlah, saat itu mati lampu, jadi aku sekeluarga masuk mobil untuk sekedar ngadem. Aku tambah bad-mood karena belum online seharian ini. Bahkan online sudah masuk dalam daftar hobiku. Jadi sehari tanpa online membuat hidupku terasa hampa.
Entah mengapa aku merasa waktu berjalan dengan lambat sekali. Ditambah dengan perasaan bad-mood dan luar biasa lapar. Rasanya baru sekali ini aku merasakan aku benar-benar lapar. Dimana aku kesakitan menahan perutku yang kosong. Padahal biasanya aku selalu bisa menahan lapar. Tapi entah kenapa hari ini rasanya aku benar-benar lapar.
***
Waktu terus berjalan. Akhirnya waktu yang kutunggu-tunggu datang juga: Bukaan.
Aku luarbiasa senang. Dengan penuh semangat aku menghabiskan seporsi rujak, sepiring nasi sop, dan tiga piring kwetiau. Nafsu makanku meningkat berapa kali lipat saat itu. Aku benar-benar ingin membalas semua rasa laparku seharian ini dengan makan sepuasnya.
Setelah menyelesaikan kwetiau untuk yang terakhir kalinya, aku berjalan dengan tergopoh-gopoh. Aku benar-benar tidak kuat lagi. Dengan susah payah aku berjalan ke dapur hendak menaruh piring kotor ke tempat pencucian piring.
Kemudian aku kembali ke meja makan untuk membersihkan sisa-sisa makanan. Langkah demi langkah yang kulewati terasa sangat berat. Sambil menahan sakit perut, kurasakan efek kekenyangan yang sungguh luarbiasa sakit. Hingga untuk bernafas saja aku sampai terengah-engah. Namun aku tetap melangkah. Selangkah.. dua langkah.. tiga langkah.. Lalu kemudian..
BRAAAAAAAAAAAK!
Perutku benar-benar menyiksaku hingga aku terjatuh lemas dilantai dapur sambil berguling-guling dan merintih kesakitan. Sakit semakin kian menjadi-jadi. Entah apa yang terjadi didalam perutku ini, sampai rasa sakit itu seakan-seakan menusuk-nusuk bagian perutku. Akhirnya kugunakan tangan yang sedari tadi memegangi perutku untuk mengurut bagian yang paling sakit.
Waktu berlalu begitu saja. Tanpa ku sadari, aku masih berguling-guling dilantai dapur. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk merangkak saja. Aku pun berhasil melewati dapur dan meja makan. Sesampai diruang keluarga, ibuku terkejut sambil melihatku dengan pandangan aneh.
“Kenapa?” tanya ibuku.
Hanya dua kata yang bisa ku ucapkan saat itu. “Sakit perut.”









