Halaman

Kamis, 23 Desember 2010

sakit perut new version

bahasa : bahasa kaku.


Cahaya matahari yang telah menembus kamar melalui kilah tirai yang sedikit terbuka mulai menggangguku. Kilauan titik-titik cahaya dapat kurasakan meski dengan mata tertutup. Perlahan-lahan, aku mulai membuka mataku. Sambil sesekali mengerjap karena kesilauan. Tapi kemudian mataku mulai menutup kembali. Bukan hanya karena silau, namun karena bagiku ini masih terlalu pagi untuk bangun. Bulan puasa memang selalu ku gunakan untuk beristirahat secara maksimal. Karena itu, aku suka bermalas-malas saat bulan puasa.
Sambil mencari posisi paling nyaman, tanganku meraba-raba tempat tidur. Sampai aku merasakan sebuah benda dalam genggamanku. Dengan malas aku membuka mata perlahan dan melihat ke layar ponsel. Waktu telah menunjukkan pukul 08.35. Awalnya aku cuek saja dan kembali memejamkan mata.
“Masih pagi..” gumamku dalam hati. Namun dalam sekejap aku spontan langsung terduduk karena ingat akan sesuatu.
“Aaaaaaaaarrrrrrghhhh!!” aku setengah berteriak.
Dengan pasrah ku hempaskan kembali diriku ketempat tidur. Bertambah satu hari lagi dimana aku tidak sahur. Padahal kemarin aku tidak sahur. Itu pun saat malamnya aku hanya makan sekali saat bukaan, tidak ada acara nambah yang biasanya menjadi tradisi bagiku saat bulan puasa.
“Huuufft..” dumelku.
Aku berjalan keluar kamar dan menemui ibuku yang sedang menyuapi adikku yang masih kecil. Sempat terbesit rasa kesalku melihat adikku bisa makan sepuasnya. Tapi perasaan itu langsung kubuang karena tidak mungkin aku menyalahkan adikku. Dia kan tidak salah apa-apa.
“Ma, kenapa Wikha kada di banguni?¹” tanyaku, sambil merebahkan diri pada sofa disamping tempat ibuku.
“Sudah mama banguni tapi kada bangun-bangun jua. Sudah digarak-garak lawan Wim tapi kada bangun-bangun.²” jawab ibuku.
Aku baru saja mau bicara, namun tiba-tiba kakakku datang dan menambahkan, “Ikam ni mun guring kaya orang guring mati ³”
Mendengar kata-kata itu, aku tambah pasrah. Tidak ada yang bisa disalahkan dalam hal ini. Memang aku-nya yang kalau sudah keenakan tidur jadi susah dibangunkan. Lagian biasanya yang paling sering tidak ikut sahur kan memang aku. Jadi kalau terjadi hal-hal seperti ini kan emang wajar. Namun entah kenapa, hari ini aku benar-benar menyesal tidak ikut sahur.

***

Seharian aku hanya menghabiskan waktu dengan tidur, sms-an, dan tidur dalam mobil. Maklumlah, saat itu mati lampu, jadi aku sekeluarga masuk mobil untuk sekedar ngadem. Aku tambah bad-mood karena belum online seharian ini. Bahkan online sudah masuk dalam daftar hobiku. Jadi sehari tanpa online membuat hidupku terasa hampa.
Entah mengapa aku merasa waktu berjalan dengan lambat sekali. Ditambah dengan perasaan bad-mood dan luar biasa lapar. Rasanya baru sekali ini aku merasakan aku benar-benar lapar. Dimana aku kesakitan menahan perutku yang kosong. Padahal biasanya aku selalu bisa menahan lapar. Tapi entah kenapa hari ini rasanya aku benar-benar lapar.

***

Waktu terus berjalan. Akhirnya waktu yang kutunggu-tunggu datang juga: Bukaan.
Aku luarbiasa senang. Dengan penuh semangat aku menghabiskan seporsi rujak, sepiring nasi sop, dan tiga piring kwetiau. Nafsu makanku meningkat berapa kali lipat saat itu. Aku benar-benar ingin membalas semua rasa laparku seharian ini dengan makan sepuasnya.
Setelah menyelesaikan kwetiau untuk yang terakhir kalinya, aku berjalan dengan tergopoh-gopoh. Aku benar-benar tidak kuat lagi. Dengan susah payah aku berjalan ke dapur hendak menaruh piring kotor ke tempat pencucian piring.
Kemudian aku kembali ke meja makan untuk membersihkan sisa-sisa makanan. Langkah demi langkah yang kulewati terasa sangat berat. Sambil menahan sakit perut, kurasakan efek kekenyangan yang sungguh luarbiasa sakit. Hingga untuk bernafas saja aku sampai terengah-engah. Namun aku tetap melangkah. Selangkah.. dua langkah.. tiga langkah.. Lalu kemudian..
BRAAAAAAAAAAAK!
Perutku benar-benar menyiksaku hingga aku terjatuh lemas dilantai dapur sambil berguling-guling dan merintih kesakitan. Sakit semakin kian menjadi-jadi. Entah apa yang terjadi didalam perutku ini, sampai rasa sakit itu seakan-seakan menusuk-nusuk bagian perutku. Akhirnya kugunakan tangan yang sedari tadi memegangi perutku untuk mengurut bagian yang paling sakit.
Waktu berlalu begitu saja. Tanpa ku sadari, aku masih berguling-guling dilantai dapur. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk merangkak saja. Aku pun berhasil melewati dapur dan meja makan. Sesampai diruang keluarga, ibuku terkejut sambil melihatku dengan pandangan aneh.
“Kenapa?” tanya ibuku.
Hanya dua kata yang bisa ku ucapkan saat itu. “Sakit perut.”

tewas dalam keadaan perut tercabik

bacanya kayak baca koran.




Banjarbaru, DUYUNGSASAT
telah ditemukan jasad tikus dalam keadaan sudah tidak bernyawa, Minggu (16/05). tikus tersebut diperkirakan sudah meninggal sejak tiga hari yang lalu. pasalnya orang rumah yang berdiam disana mengatakan bahwa telah mencium bau tidak nyaman sejak tiga hari yang lalu. awalnya biasa saja, namun akhirnya mereka curiga dengan bau yang seperti bau bangkai busuk tersebut.
setelah diselidiki, red (nama disamarkan) menemukan sebuah jasad tikus tergeletak dibawah rak-rak buku diruang kerja ayahnya yang menyambung langsung dengan rumah. melihat tikus yang sudah dalam keadaan perut tercabik-cabik tanpa bekas darah tersebut, red langsung berteriak histeris.
"Iya. saya pas nemuinnya udah pecah gitu perutnya. ngelihat itu kontan saya langsung histeris." ungkap red setelah diwawancara seputar kejadian naas yang terjadi dirumahnya tersebut.
jasad langsung dievakuasi oleh orang rumah setelah ditemukan.

Minggu, 19 Desember 2010

wahai guru, wahai pembaca pikiran

saat itu ulangan umum, tepatnya pak pelajaran agama.
kalo sebenarnya sih gue termasuk murid yang nggak terlalu bisa masalah agama. meskipun sebenarnya gue bisa aja selalu dapat nilai diatas 70, hanya aja itu nilai yang standar apalagi untuk pak pelajaran agama.

jadi intinya : gue gak terlalu menguasai agama.

permasalahan muncul saat gue akhirnya berpapasan dengan ulangan umum. dan dimana-mana pasti ada ulangan agama juga.
tapi siap ga siap gue mesti siap.

kalo dirata-ratain, sebenarnya kelas gue termasuk kelas yang gak terlalu menguasai agama juga (read: kafir) --jadi wajar aja kan kalo gue kayak gini?--
dan saat ulangan agama, guru yang kebagian ngawas kelas gue itu sebut saja bu marisa.

info: bu marisa ini terkenal mata elang-nya. ibunya bisa mengetahui gerak-gerik seseorang dengan cepat.

karena saking terkenalnya kalo bu marisa ini mata elang, bu marisa ini dicurigai memiliki indera keenam!
yaitu membaca pikiran (?)

akhirnya setelah diputuskan oleh anak-anak sekelasan, kalo ulangan ada berberapa hal yang perlu diperhatikan :


1. JANGAN TATAP MATA IBU NYA
dicurigai ibunya bisa membaca pikiran ibunya melewati mata seseorang. jadi kayak kalo seseorang menatap mata ibunya semua yang dipikirkan bisa terbaca oleh bu marisa.

2. SELALU PERHATIKAN KAKI
kalo orang pasti nanya "apa hubungannya kaki?"
jadi begini. selain mata, ibunya dicurigai dapat membaca pikiran melalui kontak-kontak bumi atau fisik.
jadi kaki tidak diperbolehkan menyentuh lantai selama ulangan sehingga ibunya tidak bisa membaca pikiran seorang anak murid.


itulah berberapa hal yang perlu diperhatikan murid-murid pada guru-guru yang dicurigai bisa membaca pikiran.
ingatlah bahwa tidak ada yang tidak mungkin.
jadi WASPADALAH WASPADALAH